Minggu, 22 November 2009

Mengolah Kayu Berbasis Ramah Lingkungan

SUARA PEMBARUAN DAILY
Mengolah Kayu Berbasis Ramah Lingkungan

INDUSTRI kayu sering identik sebagai industri yang merusak lingkungan. Namun, ada kalanya perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan menerapkan teknologi pengolahan kayu yang berbasis pada konsep ramah lingkungan.

Pilihan konsep seperti itu bisa dilakukan apabila pengusaha pengolahan perkayuan memilih jenis kayu albasiah atau sengon, sebagai bahan baku utama industri.

"Albasiah merupakan pohon kayu yang sengaja dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan secara ekologis sangat bersahabat dengan tanah. Sebab pohon ini bisa menyuplai unsur hara pada tanah dan bukan menyedot zat hara tanah. Jadi, semakin banyak albasiah ditanam maka konsisi tanah akan semakin baik" kata President Director PT Buana Jaya Lestari, Bina Kayu Lestari dan PT.Waroeng Batok Indonesia, Denny Wijaya di Bandung Jawa Barat baru-baru ini.

Menurutnya, industri kayu albasiah lebih ramah lingkungan. Sebab

Hanya butuh waktu lima tahun untuk tumbuh sebagai pohon yang siap olah. Berbeda dengan pohon jati yang memerlukan waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi pohon yang siap olah. "Dilihat dari sifatnya yang harus dibudidayakan dan daur pertumbuhannya yang relatif cepat maka pohon sengon lebih ramah lingkungan dan ekonomis," katanya.

Selain itu harga produk kayu albasiah juga sama mahal dengan produk kayu jati dan kayu keras lainnya. ''Itulah sebabnya saya berpaling pada produk kayu albasiah yang harga produksinya lebih murah," ucapnya.

Penampilan kayu albasiah ini bisa dipercantik dengan lapisan kayu keras seperti maple, kayu oak dan kayu jati, sesuai permintaan konsumen. "Dari seluruh bahan baku saya hanya menggunakan 5 persen kayu keras," ujarnya. Hal itu, tambahnya, untuk memenuhi permintaan konsumen luar negeri yang paham benar isu lingkungan tentang penghindaran menggunakan kayu keras.

Tidak Monokultur

Menurut Denny, permintaan produk albasiah akan semakin besar seiring menghangatnya isu lingkungan. Pohon albasiah, katanya, memiliki keunikan sebab berkembangbiak secara bertunas yakni sekitar 5-10 tunas per pohon.

Namun untuk pertimbangan kualitas hanya akan diperatahankan tiga tunas saja. Selain itu, secara alamiah pohon akasia memang tidak bisa tumbuh secara monokultur sehingga harus dibarengi dengan menanam pohon lain yang tidak sejenis.

"Karena sifatnya yang tidak mau ditanam secara monokultur, maka secara otomatis kami juga menanam pohon lain yang bersifat melengkapi, seperti pohon buah-buahan atau pohon kayu keras lainnya. Dengan demikian maka hutan budidaya tersebut akan lebih beragam dan hasilnya bagi petani tidak hanya dari komoditas kayu, tetapi juga buah-buahan," paparnya.

Selain menanam dalam pola yang nonmonokultur, dia menyarankan para petani untuk menanam palawija yang ditumpangsarikan dengan albasiah. "Komoditas palawija seperti temu ireng, temu lawak dan sebagainya juga menguntungkan karena sangat dibutuhkan oleh industri jamu. Dengan demikian maka para petani selalu bisa mendapatkan penghasilan alternatif," katanya.

Namun katanya, untuk pasar dalam negeri, kayu albasiah memang tidak dilirik. "Di Indonesia produk albasiah hanya laku di pasar-pasar tradisional, itupun hanya sebagai pelengkap,'' ucapnya.

- PEMBARUAN/Rieska Wulandari

Last modified: 6/3/04

Tidak ada komentar:

Posting Komentar