Minggu, 22 November 2009

Budidaya Sengon/Albasiah

Budidaya Sengon/Albasiah

By Hamiudin, on 19-02-2007 05:51

Rusaknya Kawasan Hutan saat ini, ternyata sangat berimplikasi besar pada penurunan produktifitas industri perkayuan, apalagi dengan adanya kebijakan soft landing, semakin membuat industri perkayuan Indonesia akan mati suri. Tapi kondisi ini tentunya akan memacu pertumbuhan budidaya tanaman keras pada lahan kering, salah satunya budidaya sengon. Semoga artikel ini bisa menjadi bahan yang berguna bagi Anda !



Hamiudin, SST/1999/UP

PENDAHULUAN

Sengon juga disebut Jeung jing, Albiso atau Albasiah dahulu mempunyai nama botani Albisia falcataria (L). Namun sejak tahun 1983, berdasarkan Bulletin Museum Nasional Paris dan the Flora Malaysiana (laporan225), nama botanisnya dirubah menjadi Pharaseriantes falcataria

Sengon dapat tumbuh pada lahan berketinggian 0-2.000 m diatas permukaan laut, dengan iklim A, B dan C bercurah hujan rata-rata 2.000-4.000 mm/tahun, pada kondisi lahan agak subur, serta memerlukan cahaya kuat. Selain sebagai salah satu tumbuhan yang dapat memperbaiki kesuburan lahan, sengon juga merupakan penghasil kayu yang produktif. Ketinggian pohon dapat mencapai 25-45 meter. Hingga berumur 5 tahun pertumbuhan tingginya mencapai 4 meter/tahun. Dapat ditebang setelah berumur 5-9 tahun. Potensi produksi kayunya sebesar 10-40 m3/hektar/tahun, atau 250m3 per hektar. Kayu sengon dapat dimanfatkan untuk kayu kontruksi/bangunan, peti kemas korek api, pulp, jointed board/wood working, sawmill, moulding, meubelair, kayu bakar dan arang. Sifat pengerjaannya:Mudah digergaji, diserut, dipahat, dibor, diamplas, dan diplitur, serta tidak mudah pecah kalau dipaku.

MANFAAT PENANAMAN SENGON

Bagi Pemerintah :

1.
Daunnya cepat rontok dan membusuk,mampu mengembalikan kesuburan lahan kritis.
2.
Meningkatkan perlindungan lahan dan pengaturan tata air.
3.
Mendukung program penghijauan dan pelestarian alam.
4.
Meningkatkan prodoksi kayu untuk konsumsi masyarakat dan bahan baku industri didalam negeri.
5.
Meningkatkan penerimaan devisa melalui ekspor barang jadi.

Bagi masyarakat

1.
Meningkatkan produktifitas lahan dengan penganekaragaman hasil .
2.
Meningkatkan pendapatan petani.
3.
Perluasan lapangan pekerjaan .
4.
Pemenuhan akan kebutuhan kayu bakar.
5.
Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai hijauan makanan ternak

BUDIDAYA TANAMAN

*
Persemaian

Bibit tanaman sengon dapat diperoleh melalui penyemaian biji, trubusan , atau melalui kultur jaringan. Secara tradisional , persemaian dibuat di sekitar kebun sengon, berukuran (1x2 meter) sampai (1x5 meter) berupa bedeng tabur. Bedeng tabur dibuat 10-15 cm lebih tinggi dari permukaan tanah, dibersihkan dari kotoran dan batu, serta digemburkan.1 Kilogram biji sengon kering berisi lebih kurang 40.000 butir . Sebelum di tabur ke bedeng tabur ,biji sengon harus diseduh dengan air mendidih, kemudian direndam dalam air dingin selama 24 jam. Biji ditabur dengan jarak larikan 10 cm . Setelah berumur 1-1,5 bulan bibit dipindahkan ke kantong plastik atau pesemaian dengan jarak 10x10 cm. Atau dengan cara benih langsung ditabur dalam kantong plastik.Bibit berbentuk plances siap ditanam setelah berumur 4-6 bulan, sedang dalam bentuk stump setelah berumur 8-12 bulan. Pada musim hujan bibit harus siap ditanam.

*
Penanaman

Lapangan tanaman harus di persiapkan dengan baik. Lubang complongan dibuat dengan ukuran 30x30x30 cm. Penanaman dengan plances dilakukan dengan membuka kantong plastiknya lebih dulu . Jika ditanam dengan stump , harus dibuat dengan ukuran panjang 30-100 cm .Pada saat menanam, baik dengan plances maupun stump harus diusahakan agar akar tunggangnya tidak terganggu .Anakan yang berasal dari trubusan biasanya dengan meninggalkan 1-2 batang yang tumbuh dari tunggak, namun volume yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diharapkan . Karenanya , untuk memperoleh bibit yang baik , sebaiknya menggunakan biji hasil seleksi atau anakan yang berasal dari kultur jaringan. Jarak tanam yang optimum tergantung pada sasaran yang diharapkan . Untuk hasil kayu sebagai bahan pulp, maka jarak tanam yang pendek (2x3 meter) atau (3x3 meter) . Sedang untuk bahan bangunan dan keperluan industri , jarak tanamnya perlu lebih lebar , baik melalui penjarangan maupun langsung dengan jarak tanam : (4x4 meter), (4x5 meter) atau (5x5 meter).

*
Pemeliharaan

Untuk memperoleh kayu yang baik , pemeliharaan tanaman sengon perlu dilakukan . Antara lain : memangkas bagian cabang terbawah , dan memberantas hama penggerek kayu (boktor) secara terus menerus sejak awal.

*
Pemungutan hasil

Pada umur lima tahun pohon sengon sudah dapat dimanfaatkan kayunya sebagai kayu pertukangan, bahan baku pabrik kertas atau kayu bakar. Pada umur ini ,jika perlu dilakukan tebang penjarangan atau tebang pilih. Pada tempat yang dilakukan penebangan, dilakukan penanaman kembali agar produk dan kesuburan lahan dapat terjaga secara lestari dan berkesinambungan. Umur masak tebang pohon sengon adalah 9 tahun. Pada umur ini, setelah ditebang sebaiknya dilanjutkan dengan peremajaan sengon, yakni dengan penanaman kembali. Pengolahan dan pemasaran Pengolahan kayu secara sederhana dapat dilakukan dengan dipacak atau digergaji untuk membuat papan atau balok . Namun dengan cara ini, hasil kayunya kurang bermutu sehingga harga yang dicapai rendah. Untuk memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi, dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut menjadi moulding, chips, jointed board, claping board, dan lain-lain .

*
Pemasaran

Pemasaran kayu sengon dapat ditempuh dengan cara :

1.
Menjual langsung ke pasar.
2.
Menjual melalui Koperasi Unit Desa (KUD) .
3.
Ke industri kayu terdekatKayu sengon dapat juga dijual ke Perusahaan kayu, pengepul/pedagang kayu.

Prospek penanaman sengon cukup cerah . Adanya jaminan pemasaran ,baik didalam negeri maupun diluar negeri dengan harga yang kian mantap, sangat menguntungkan petani tanaman sengon ,yang berupa Kayu pertukangan, kayu bakar, serta palawija yang ditanam secara tumpangsari pada kebun sengon . Sementara itu kebutuhan pembiayaan meliputi Pengadaan bibit, penanaman, pupuk, obat-obatan , dan pemeliharaan.Pengalaman petani penanam sengon menyebutkan, penjualan hasil-hasil yang dipungut , setelah dikurangi seluruh biaya yang dibutuhkan, menghasilkan nilai keuntungan yang cukup besar .Pengolahan lebih lanjut melalui industri perkayuan menghasilkan nilai tambah per m3 bahan baku yang cukup tinggi .

Mengolah Kayu Berbasis Ramah Lingkungan

SUARA PEMBARUAN DAILY
Mengolah Kayu Berbasis Ramah Lingkungan

INDUSTRI kayu sering identik sebagai industri yang merusak lingkungan. Namun, ada kalanya perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan menerapkan teknologi pengolahan kayu yang berbasis pada konsep ramah lingkungan.

Pilihan konsep seperti itu bisa dilakukan apabila pengusaha pengolahan perkayuan memilih jenis kayu albasiah atau sengon, sebagai bahan baku utama industri.

"Albasiah merupakan pohon kayu yang sengaja dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan secara ekologis sangat bersahabat dengan tanah. Sebab pohon ini bisa menyuplai unsur hara pada tanah dan bukan menyedot zat hara tanah. Jadi, semakin banyak albasiah ditanam maka konsisi tanah akan semakin baik" kata President Director PT Buana Jaya Lestari, Bina Kayu Lestari dan PT.Waroeng Batok Indonesia, Denny Wijaya di Bandung Jawa Barat baru-baru ini.

Menurutnya, industri kayu albasiah lebih ramah lingkungan. Sebab

Hanya butuh waktu lima tahun untuk tumbuh sebagai pohon yang siap olah. Berbeda dengan pohon jati yang memerlukan waktu sekitar 30 tahun untuk menjadi pohon yang siap olah. "Dilihat dari sifatnya yang harus dibudidayakan dan daur pertumbuhannya yang relatif cepat maka pohon sengon lebih ramah lingkungan dan ekonomis," katanya.

Selain itu harga produk kayu albasiah juga sama mahal dengan produk kayu jati dan kayu keras lainnya. ''Itulah sebabnya saya berpaling pada produk kayu albasiah yang harga produksinya lebih murah," ucapnya.

Penampilan kayu albasiah ini bisa dipercantik dengan lapisan kayu keras seperti maple, kayu oak dan kayu jati, sesuai permintaan konsumen. "Dari seluruh bahan baku saya hanya menggunakan 5 persen kayu keras," ujarnya. Hal itu, tambahnya, untuk memenuhi permintaan konsumen luar negeri yang paham benar isu lingkungan tentang penghindaran menggunakan kayu keras.

Tidak Monokultur

Menurut Denny, permintaan produk albasiah akan semakin besar seiring menghangatnya isu lingkungan. Pohon albasiah, katanya, memiliki keunikan sebab berkembangbiak secara bertunas yakni sekitar 5-10 tunas per pohon.

Namun untuk pertimbangan kualitas hanya akan diperatahankan tiga tunas saja. Selain itu, secara alamiah pohon akasia memang tidak bisa tumbuh secara monokultur sehingga harus dibarengi dengan menanam pohon lain yang tidak sejenis.

"Karena sifatnya yang tidak mau ditanam secara monokultur, maka secara otomatis kami juga menanam pohon lain yang bersifat melengkapi, seperti pohon buah-buahan atau pohon kayu keras lainnya. Dengan demikian maka hutan budidaya tersebut akan lebih beragam dan hasilnya bagi petani tidak hanya dari komoditas kayu, tetapi juga buah-buahan," paparnya.

Selain menanam dalam pola yang nonmonokultur, dia menyarankan para petani untuk menanam palawija yang ditumpangsarikan dengan albasiah. "Komoditas palawija seperti temu ireng, temu lawak dan sebagainya juga menguntungkan karena sangat dibutuhkan oleh industri jamu. Dengan demikian maka para petani selalu bisa mendapatkan penghasilan alternatif," katanya.

Namun katanya, untuk pasar dalam negeri, kayu albasiah memang tidak dilirik. "Di Indonesia produk albasiah hanya laku di pasar-pasar tradisional, itupun hanya sebagai pelengkap,'' ucapnya.

- PEMBARUAN/Rieska Wulandari

Last modified: 6/3/04